Oleh: Bolu
“Eh, Bee!” Aku menoleh ke kiri, ke arah asal suara.
“Eve!” aku berseru balas menyapa.
“Apa kabar, Bee?”
“Baik,” sahutku.
Kami berdiri di depan butik Zara di Plasa Senayan. Sama-sama sendirian pada jam pulang kerja hingga kami memutuskan untuk mencari tempat yang lebih enak untuk ngobrol.
“Kamu sendirian?” tanyaku.
“Ah, nggak. Aku nunggu teman. Kamu?”
“Aku udah mau pulang, tadi habis ditraktir teman ultah,” jawabku.
“Udah lama nggak denger kabar dari kamu, Bee,” kata Eve.
“Iya ya, udah lama...” Aku berusaha mengingat saat terakhirku bertemu dengan Eve.
“Aku sampai baca blog kamu, lho, Bee,” kata Eve mengaku sambil tersenyum. “Jadi sama binor nih?”
Aku mengernyit heran. “Binor?”
“Iya. Bini Orang,” katanya. “Danielle itu bini orang, kan?”
Aku tertawa. “Dasar kamu Eve!”
Eve tertawa terbahak-bahak. “Kaget aja kamu tertarik sama ibu-ibu gitu, Bee.”
“Aku nggak jalan sama Danielle kok,” kataku mengelak.
“Yeah, yeah, Bee. You can talk to my hand.” Eve melambaikan tangannya sok tidak peduli. “Ngapain juga kamu sama binor, Bee? Masih banyak lesbian single yang pasti mau sama kamu.”
“Contohnya kamu?” tanyaku.
Eve mengangkat bahu sambil mencibir menggoda. “Yahhh...”
“Masih buaya aja kamu, Eve.”
Kami mengobrol santai sambil aku sesekali menyedot caramel latte di depanku. “Eh, kamu nunggu cewek kamu?”
Eve cuma nyengir nakal tidak mengiyakan atau menidakkan. “Speak of the devil. Itu dia datang.”
Aku menoleh ke belakang. Melihat seorang perempuan yang tidak asing lagi menghampiri kami. Nia.
Sial.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Tuesday, November 24, 2009
Obrolan
Labels: #Bolu, relationship
Monday, November 23, 2009
Tidak Tegas
Oleh: Donat
Saya baru tiba di rumah dari kantor dan siap menyantap makan malam, tiba-tiba Amel menjerit-jerit di depan televisi. Saya meletakan garpu dan sendok dengan cepat, lalu bergerak ke ruang tengah. Tivi menyala dan volume diperbesar. Wajah presiden Republik Indonesia memenuhi seluruh layar tivi.
"Pak Beye mau kasih pidato," kata Amel serius. Dia duduk bersila di salah satu sofa. "Terkait urusan kisruh KPK dan Polri dan pengadilan dan..."
Saya melirik ke Amel. "Sttt! Udah mulai."
Mata Amel kembali ke layar televisi, sementara saya berlari ke ruang makan. Dengan gerakan kilat saya menyambar piring makan saya, menentengnya ke ruang tengah. Saya makan sambil menonton pidato presiden. Jarang-jarang saya tertarik mendengarkan apa yang dikatakan oleh presiden, apalagi sampai khusus duduk menyimak kata demi kata dengan serius.
Beberapa menit berlalu. Pidato berakhir. Saya dan Amel berpandangan, melempar tatap tanpa kata tapi penuh makna. Mendadak kesunyian dibelah oleh suara hape saya yang berbunyi. Dari Margareth.
"Halo, Say? Nonton pidato presiden nggak?" Cerocos Margareth.
"Nonton kok. Ini lagi sama-sama Amel. Kamu juga?"
"Iya, tadi aku nonton. Btw, Say, kok SBY mengingatkanku sama kamu ya?"
Saya terdiam sedetik, nggak mengerti ucapan Margareth. "Maksudnya?"
"Maksudnya nggak tegas. Nggak jelas maunya apa. Kalau mau serius ya diseriusin dong. Ngajak tinggal bareng kek! Rencanain masa depan kek! Buat definisi hidup bersama kek! Apa kek! Jangan anti-komitmen atau sok tough, sok ngerasa bisa hidup sendiri. Biar lesbian, harus berani tegas."
Jeda yang mengganggu saat Margareth menarik napas. Saya ternganga, lalu tertawa keras sekali.
@Donat, SepociKopi, 2009
Labels: #Donat, relationship
Sunday, November 22, 2009
Dua
Oleh: Brownies
"Gue nggak apa-apa, Beib. Udah sehat!"
"Kalau tidak apa-apa, kalau sudah sehat, kamu nggak akan berada di sini, Biy! dokter tidak akan menahan kamu dan harus melewati semua test sialan ini! Kamu pikir aku nggak tersiksa melihat perawat itu mondar-mandir mengambil sample darah kamu? kamu pikir aku nggak ngerasa sakit?!"
Aku meledak.
Sudah tidak tahan menghadapi rengekan Bianca untuk pulang, pulang dan pulang.
Bianca diam. Mengalihkan pandangannya ke jendela yang menghadap taman. Sikap yang menunjukkan ia tidak peduli dengan apa yang kuucapkan, ia hanya peduli dengan apa yang ia inginkan.
Memar dan lecet di beberapa bagian tubuhnya memang sudah pulih. Sesi fisioterapi untuk lutut dan pundaknya juga sudah selesai. Tapi ini tidak sesederhana yang terlihat. Aku sudah kehabisan cara untuk menjelaskannya.
Dan yang membuatku semakin tertekan menghadapi Bianca adalah sifat keras kepalanya.
"Andai kepala kamu benar-benar keras, Biy. Bukan hanya sifat kamu yang keras kepala, kamu nggak perlu berlama-lama ada sini" kataku pada Bianca, yang dijawab dengan cibirian cueknya. Khas Bianca.
"Biy..." aku menarik napas berusaha menurunkan kemarahan.
"Hm?"
"Aku sayang sama kamu. Aku ingin kita menyelesaikan semua ini, sampai kamu benar-benar pulih. Please..., tolong hubungi keluarga kamu. Atau sebutkan siapa yang bisa aku hubungi."
Bianca memejamkan matanya, dadanya turun naik. Aku tidak mengerti mengapa sesulit ini membuat Bianca terbuka tentang keluarganya.
"Keluarga gue hanya ada dua orang, Beib," ucap Bianca dengan suara tertahan. "Evan dan elo. Itupun kalau lo masih mau menganggap gue keluarga."
"Evan?!"
@Brownies, Sepocikopi, 2009
Saturday, November 21, 2009
Orang-Orangan
Oleh: Bolu
“Menurutku kamu harus menikah dengan Pak Tio, Bee,” kata Danielle lewat telepon.
“Kenapa?” tanyaku sambil memperbaiki posisi berbaringku di ranjang.
“Ya, bagus, kan? Orang-orang nggak akan mencurigai kamu lesbian.”
“Tapi...”
“Kamu mungkin nggak akan ketemu calon lain yang se-perfect Pak Tio. Kalian kerja sekantor. Orang-orang nggak akan mikir aneh kalau kalian menikah. Pak Tio baik. Dia husband material yang bagus. Pekerjaannya oke.”
Aku terdiam sejenak. “Danielle, aku tidak bisa membayangkan hidup menikah.”
“Lho, kamu kan hanya nikah pura-pura.”
“Aku nggak mau terikat dalam pernikahan seperti kamu lalu menyesal.”
“Kan kamu dan Pak Tio bukan nikah sungguhan, Bee. Beda sama aku. Kamu tidak perlu melakukan itu, kan dengan dia?”
“Itu” yang dimaksud Bee adalah hubungan intim.
“Ya, nggak sih. Belum dibicarakan pastinya. Tapi kayaknya nggak deh. Dia kan gay.”
“Bee, jangan samakan hubunganku dan suamiku dengan hubungan kamu dan Pak Tio. Hubunganku rumit. Dua keluarga. Saling dijodohkan. Semua menganggap kami pasangan serasi. Suamiku sangat baik. Aku tidak bahagia karena aku ternyata sukanya dengan perempuan.”
“Tapi...”
“Duh, Bee, jangan tanya lagi kenapa aku menikah. Aku nggak mau bercerai juga karena aku nggak mau anakku nggak punya ayah. Belum lagi urusan keluarga yang bakal nanya macam-macam kalau aku meminta cerai. Nggak semudah itu, Bee. Belum lagi omongan orang-orang.”
Danielle masih bicara panjang lebar, bercerita tentang kenapa aku harus menikah dengan Pak Tio. Namun aku mulai mempertanyakan orang-orang yang dimaksud Danielle. Jangan-jangan orang-orang itu hanya ilusi seperti orang-orangan sawah. Ada, tapi tak berwujud nyata. Tak bernyawa, tapi menakut-nakuti.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Labels: #Bolu, family, pernikahan, tentang lelaki
Friday, November 20, 2009
Obrolan tentang Anak-anak
Oleh: Donat
Apakah sudah saya beritahu bahwa Nicole dan saya bekerja di dua dunia yang berbeda tapi perusahaan kami memiliki relasi penting satu sama lain? Saya baru tahu kurang lebih setahun lalu dan itu tidak mengherankan kalau Nicole berada di pesta ulangtahun anak kecil ini. Pasti Pak Bos yang ikut mengundangnya.
"Kasian." Mendadak saya mendecak.
"Kenapa kasian?" Tanya Nicole.
"Pesta anak-anak ini..." Saya melempar pandang ke seluruh tempat. "Isinya penuh teman-teman relasi opa-nya, bukan teman-teman mereka."
"Ini seluruh keluarga yang datang kan?"
Saya mengangguk, menyetujui, memperhatikan kue tart yang sedang dibagikan ke semua orang.
"Anak-anak ini sudah dipersiapkan membiasakan diri dengan apa yang orangtua harapkan, bahkan pada ulangtahunnya yang pertama..." Nicole mengambil kue tart yang ditawarkan kepadanya. "...bersama klien-klien opa. Mereka penerus kerajaan bisnis ini."
Saya merenung. "Bayangkan apa yang terjadi kalau mereka dewasa dan lesbi..."
"Nggak usah dipikirin!" seru Nicole memotong. Dia menyuapkan satu potongan besar kue tart ke depan mulutku. Saya tidak bisa mengelak kecuali akhirnya terpaksa menelannya. "Selama opa-nya bisa menerima kaum LGBT, keliatannya anak-anak ini akan aman-aman saja."
"Hmmm..." Saya tidak bisa ngomong apa-apa karena mulut saya sedang sibuk mengunyah kue tart. Nicole memandang saya dengan tatapan sayang.
@Donat, SepociKopi, 2009
Thursday, November 19, 2009
Keluarga?
Sampai hari ini Bianca masih dalam pantauan dokter. Keadaannya tidak sesederhana yang Bianca ceritakan.
Hal ini aku ketahui ketika aku, mewakili keluarganya di minta ke ruang dokter untuk mendengarkan penjelasan hasil pemeriksaan.
"Untuk pemeriksaan lebih akurat kami menyarankan pasien atas nama nona Bianca untuk melakukan pemeriksaan MRI untuk mendiagnosis lesi intrakranial."
Susah payah aku mencerna dan mengingat-ingat ucapan dokter yang penuh dengan istilah yang tidak aku mengerti.
"Maksudnya bagaimana itu, Dok?" setengah memohon agar dokter bisa memberikan penjelasan yang lebih bisa kupahami.
Setelah keluar dari ruang dokter, aku melangkah lungai menuju ruang inap Bianca. Menekuri kotak-kotak keramik kehijauan. Nuansa teduh yang berpendar lembut di sepanjang selasar rumah sakit sediki berhasil menenangkanku. Selebihnya hanya kegalauan. Ketakutan.
Ternyata trauma di kepala Bianca akibat benturan sempat membuat Bianca hilang kesadaran untuk sesaat. Dua hari kemarin, saat aku tidak bisa menemani Bianca, dia mendadak muntah beberapakali tanpa sebab yang jelas.
Awalnya aku tidak bisa menemukan hubungan semua ini dengan tingkat kegawatan kondisi Bianca. Hingga ketika Bianca mengalami kejang, meski singkat, dokter memutuskan untuk melakukan CT Scan.
"Trauma di kepalanya perlu kita observasi lebih lanjut, dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan kami butuh surat pernyataan yang ditandatangani oleh keluarga pasien."
Bukan benturan biasa
Ucapan dokter berulang-ulang bergema di kepalaku.
Keluarga pasien? Keluarga Bianca?. Bisakah aku mewakili mereka untuk keputusan sebesar ini?
@Brownies, Sepocikopi, 2009
Wednesday, November 18, 2009
Berpikir
Oleh: Bolu
“Sudah kamu pikirkan, Bee?” tanya Pak Tio.
Aku diam pura-pura menyedot jus jeruk di depanku. Mataku menunduk melihat ke arah meja makan sementara aku tahu Pak Tio memandangiku lekat-lekat.
“Bee?”
Aku mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawabnya. “Dipikir-pikir sih udah, Pak.”
Aku sengaja memberi jeda, dan Pak Tio memandangiku tidak sabar.
“Lalu?” tanyanya lagi.
“Masih dipikirin sih sebenarnya, Pak.” Aku memilih cara mengulur waktu. Semakin lama semakin baik.
Pak Tio menghela napas. “Apa yang membuat kamu ragu, Bee?”
“Semua ini... pernikahan bukan sesuatu yang sama gampangnya seperti mengajak orang tur ke Bali.”
“Aku ngerti, Bee. Tapi kupikir salah satu alasan kita pacaran begini tujuannya kan menikah.”
“Tapi...” Aku menghentikan ucapanku. “Tapi aku tidak berpikir ke sana, Pak,” jawabku jujur.
“Kamu berpikir kita akan begini terus? Pacaran lalu putus?”
Aku mengangguk pelan.
“Lalu aku mesti cari perempuan lain, lesbian lain, yang harus kuajak pacaran pura-pura... terus... apa, Bee?”
Kembali kusedot jus jerukku. “Ya....”
“Bee, cobalah melihat lebih jauh. Kamu mungkin belum terpikir tentang pernikahan sekarang karena kamu masih muda. Coba pikirkan nanti setahun dua tahun lagi. Keluarga kamu pasti akan bertanya-tanya soal status lajangmu. Kakakmu tahun depan menikah, kan?”
Aku mengangguk. Ya, Kak Cynthia akhirnya akan menikah tahun depan setelah lebih lima tahun pacaran. Giliran berikutnya adalah aku.
"Jadi, Bee, tolong, jangan terlalu lama memikirkannya..." Tangan Pak Tio terulur menggapai tanganku. Menggenggamnya erat-erat.
@Bolu, SepociKopi, 2009
Labels: #Bolu, problem, relationship
Tuesday, November 17, 2009
At Party
Oleh: Donat
Siapa di sini yang menyukai anak-anak? Saya tidak suka. Bagi saya anak-anak itu berisik, kotor, bau, berantakan, dan mengganggu. Jangan kira karena saya adalah perempuan, maka menyukai anak menjadi hal yang alamiah. Enggak, sama sekali enggak.
Kepala saya sudah pusing melihat keramaian anak-anak di sekitar kolam renang pada perayaan ulangtahun Pak Bos. Baby sitter berkeliaran di mana-mana; menggendong, menyuapin, membujuk, dan menggantikan baju. Saya mencari tempat yang teduh di pinggir kolam renang sebelum saya mengambil segelas jus jeruk dingin.
Rumah Pak Bos yang ini besar. Saya sudah beberapa kali datang. Dia juga memiliki apartemen di tengah kota yang lebih sering saya kunjungi kalau harus rapat dan kebetulan Pak Bos sakit. Sakit atau tidak sakit, miting harus tetap jalan. Tim kreatif bergerak pindah ke tempat Pak Bos berada, entah di rumah, apartemen, mal, bahkan luar kota. Atasan saya memang luar biasa. Dedikasi dan cintanya kepada film, televisi, dan pekerjaan sungguh besar.
Tadi begitu datang, saya sudah bersiap untuk melenturkan lidah saya berbohong apabila Pak Bos bertanya tentang pacar saya. Tapi dia tidak bertanya. Saya menarik kesimpulan Pak Bos lupa tentang undangannya kepada satu orang lain lagi. Untunglah.
Lagi duduk-duduk sambil berbincang-bincang dengan sesama rekan kerja, tahu-tahu bahu saya ditepuk seseorang.
"Donna!"
Saya memutar kepala saya, terkejut melihat siapa yang sedang tersenyum memandang saya.
"Nicole!" seru saya kegirangan.
Saya menggeser pantat saya, memberikan ekstra ruang di sofa pantai yang saya duduki. Selama dua jam selanjutnya, saya dan Nicole asyik mengobrol berduaan dan lekat satu sama lain, sampai-sampai baru sadar setelahnya apakah mungkin Pak Bos mengira saya berpacaran dengan Nicole? Soalnya dia tersenyum-senyum melihat kami berdua.
@Donat, SepociKopi, 2009
Labels: #Donat, love, pertemanan, pleasure
Monday, November 16, 2009
Kronologi
Oleh: Brownies
"Dari kejauhan sebenarnya gue udah ada khawatir bakal ada pohon yang tumbang, hujannya deras dan anginnya kencang banget. Plang di depan ruko sebelah kiri sudah ada yang oleng, pohon-pohon udah nggak karuan goyangnya. Waktu itu jarak dengan Inova di depan tidak begitu jauh dan gue nggak nyangka pohon yang goyang-goyang itu tiba-tiba rubuh di depan Inova. Gue kaget dan takut ketimpa pohon langsung banting setir ke kanan, untungnya itu jalan satu jalur. Udah nggak mikir mobil dari belakang. Jadilah moncong Vios gue nabrak trotoar kanan dan bokongnya diseruduk mobil yang mau nyalip dari belakang."
Aku mengangguk-angguk mendengar penuturan Bianca tentang kronologi tabrakan itu, membayangkan kengeriannya sambil membelai kepala Bianca. Refleks saja. Untuk sesaat tidak tau harus bersyukur atau menyesalkan kejadian ini.
"Tabrakan beruntun?" tanyaku.
"Iya," Mendadak tangan kiri Bianca menepis tanganku. Kepalanya begerak menghindari sentuhanku. Seketika rasa nyeri menjalari seluruh hati. "Itu, cewek yang kemarin di kamar sebelah yang punya mobil Inova." Lanjut Bianca tanpa ekspresi.
"Ngg, mobilnya penyok dong? Parah?"
Aku tau pertanyaanku terdengar tolol. Tapi hanya itu yang bisa keluar dari tenggorokan yang tercekat karena tepisan Bianca.
"Justru tidak. Cuma kena dahannya, dia shock ketakutan. Pingsan atau pura-pura pingsan nggak tau deh. Mobil gue yang parah, kena depan belakang. Gue mau nuntut tapi kasihan. Lagian diberesin sama asuransi ini kok."
Mataku panas. Tidak mampu lagi menahan.
"Biy... kamu masih marah?"
"Hah? Marah? Marah kenapa? Sama siapa?" Tatapannya jelas tidak menyadari apa yang barusan dia lakukan. Mungkinkah dia benar-benar tidak menyadarinya atau sedang pura-pura tidak menyadari?
"Kenapa aku nggak boleh belai kepala kamu?" tuntutku.
"Kapan?"
"Tadi. Waktu kamu cerita."
"Astaga, Beib!" Bianca mendesis, merapatkan giginya."Tadi itu lagi ada suster yang senyum-senyum perhatiin lo. Apa lo mau serumah sakit ini tau bahwa disini ada pasien lesbi?. Jangan bodoh deh. Lagian sensi amat sih. Pake nangis lagi. Ha ha ha. Malu tuh sama umur!"
Aku tersipu, buru-buru menyeka mata. Untuk pertamakalinya aku sangat menikmati kejudesan Bianca. Ah, dia masih memanggilku "Beib".
@Brownies, Sepocikopi, 2009
